:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2518444/original/071421600_1544271285-IMG-20181208-WA0083.jpg)
Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Deddy Mizwar, mempertanyakan ribuan e-KTP yang ditemukan tercecer di Kelurahan Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Deddy mengatakan bahwa peristiwa itu juga pernah terjadi di daerah lainnya.
"Kemarin di Pilgub Jabar kan juga (ada) beberapa karung. Sekarang (di Duren Sawit) tidak tahu ada gejala apa, nih?" ucap Deddy di kediaman Ma'ruf Amin, Jalan Situbondo, Jakarta Pusat, Minggu (9/12/2018).
Dia berharap aparat kepolisiaan dapat mengusut pihak yang membuang ribuan e-KTP itu. Hal ini agar Pemilu 2019 berlangusng jujur tanpa ada kecurangan.
"Harus diserahkan kepada pihak berwenang untuk diteliti, diindikasikan kenapa. Kita tidak bisa menduga-duga yang penting pemilu harus jujur," kata mantan Wakil Gubernur Jawa Barat itu.
Tak hanya kasus e-KTP yang dibuang di tempat sampah, kasus yang membetot perhatian publik belakangan juga terkait dengan blangko e-KTP yang dijual bebas.
Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh mengakui hal tersebut. Menurut dia, oknum penjual blangko e-KTP itu sudah diketahui. Dia adalah anak eks Kepala Dinas Dukcapil Lampung. Motifnya hanya iseng semata.
"Enggak, di WA (whatsapp) ke saya katanya iseng," kata Zudan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Zudan menegaskan, tidak ada motif politik dari insiden tersebut. Sebab, jumlah blangko e-KTP yang dijual secara online itu hanya 10 keping.
Selain itu, tidak ada motif keuangan dari kasus penjualan e-KTP online. Zudan menegaskan bahwa ini hanya sebuah keisengan yang fatal.
"Tapi ini keisengan yang fatal karena bikin gaduh, penurunan trust itu kan ada bisa terus trust-nya padahal enggak. Enggak terjadi jebolnya sistem karena pencurian biasa gitu," ucapnya.
Namun menurut Wakil Ketua Komisi II dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera, kasus ini bisa menjadi gerbang kecurangan Pemilu 2019.
"Bisa, tapi saya tidak mau suuzon. Karena pertama jumlahnya sepertinya tidak besar dan rata-rata itu untuk orang kecil," kata Mardani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (6/12/2018).
Mardani menilai, masalah ini tidak bisa dianggap sederhana. Pasalnya, ada lebih dari satu toko yang menjual blangko e-KTP.
Karena itu, dia menyarankan adanya audit untuk melihat akar masalah penjualan blangko e-KTP online itu. Hal itu, ucap dia, dilakukan agar masyarakat paham dan bisa segera melaporkan jika ada kejadian serupa.
Saksikan video menarik berikut ini:
Ribuan keping E-KTP ini ditemukan bertebaran di areal persawahan yang tak jauh dari pemukiman warga.
No comments:
Post a Comment